-->
    |

Jarot Curhat ke Staf Khusus Menristekdikti, Soal Politeknik Perbatasan



SINTANG (Suara Sintang Raya) Bupati Sintang Jarot Winarno menilai perlu adanya sebuah lembaga pendidikan yang mampu menghasilkan tenaga kerja siap pakai. Satu di antaranya dengan mendirikan Politeknik Perbatasan yang sejalan dengan program pemerintah pusat.

Harapan Jarot dengan adanya Politeknik Perbatasan, kedepannya masyarakat bisa bekerja di posisi yang lebih banyak di perkebunan dan pabrik kelapa sawit.

“Selamai ini masyarakat Kabupaten Sintang yang bekerja di perkebunan kelapa sawit dan karet, hanya ditempatkan di humas dan buruh,” ungkap Jarot saat menerima kunjungan Staf Khusus Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Dr. KH. Abdul Wahid Maktub, Jumat (27/10/2017).

 Penilaian Jarot bukan tanpa alasan. Kabupaten Sintang memiliki luas wilayah  21.638 km². Saat ini terdapat 166 ribu hektare kebun kelapa sawit dan karet, 56 perusahaan dan 6 pabrik pengolahan kelapa sawit.

Minimnya tenaga kerja siap pakai membuat perusahaan menggunakan tenaga kerja dari luar. “Di sektor lain, pihak perusahaan menggunakan tenaga kerja dari luar Sintang,” ujarnya.

Pemkab Sintang, kata Jarot, sudah menyiapkan  tanah luas dan  tenaga pengajar yang handal. Tinggal aksi dan kebijakan dari pemerintah pusat untuk merealisasikan pendirian Politeknik Perbatasan di Sintang. “Kami berharap Staf Khusus Menristekdikti bisa membantu memperjuangkan pendirian Politeknik Perbatasan ini,” harap Jarot.

Dijelaskan Jarot bahwa Pemkab Sintang sudah menandatangani Memorandum of Understanding dengan Rektor Universitas Tanjungpura untuk kerjasama dalam banyak bidang. Sehingga sangat tepat jika kerjasama dengan Untan menjadi salah satu pertimbangan dalam pendirian Politeknik Perbatasan.

Staf Khusus Menristekdikti, Abdul Wahid Maktub, optimis Politeknik Perbatasan bisa didirikan di Kabupaten Sintang. “Jika Pemkab Sintang sudah menyiapkan segala keperluannya, saya yakin bisa terealisasi,” ujarnya.
Ia berpesan dalam memperjuangkan pendirian Politeknik Perbatasan harus melibatkan semua elemen.

“Jangan single fighter. Semua elemen di Kabupaten Sintang harus kompak, memperkuat kerjasama dan kemitraan dengan Universitas Tanjungpura, jalin komunikasi yang baik dengan Rektor Untan. Artinya Inisiatif dari Pemkab Sintang sangat penting,” beber Abdul.

Ia minta Pemkab Sintang terus mengawal pendirian Politeknik Perbatasan. Keseriusan serta kekompokan sangat diperlukan.

Menurut Abdul, Indonesia sudah tidak terlalu membutuhkan perguruan tinggi yang banyak. Ia mencontohkan RRC dengan penduduk sekitar 1 milyar jiwa, hanya ada 2. 800 perguruan tinggi.  Sementara Indonesia dengan penduduk sekitar 200 juta jiwa memiliki 4.500 perguruan tinggi.

“Kami di Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi, sedang bergerak untuk mewujudkan reformasi pendidikan yang selama ini tidak konek dengan lapangan kerja.  Kita terlalu banyak teori, praktik kurang.  Jadi, kami sangat menyambut baik jika pendirian sebuah perguruan tinggi yang berorientasi lapangan kerja,” terang Abdul. (din)



Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini